Halo, Sahabat Korma!
Pernahkah kamu penasaran bagaimana kecap bisa memiliki rasa yang begitu khas? Ternyata, proses di balik kecap yang sering kita gunakan sehari-hari tidak sesederhana yang kita kira. Dari kedelai hingga menjadi bumbu andalan, kecap melalui perjalanan panjang yang melibatkan fermentasi alami. Yuk, simak fermentasi kecap menggunakan bakteri yang bisa menjadi rasa yang lezat.

sumber: Freepik.com/jcomp
Fermentasi adalah proses biokimia yang melibatkan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur untuk mengubah bahan makanan. Dalam pembuatan kecap, fermentasi memainkan peran penting dalam menguraikan protein kedelai menjadi asam amino, yang memberikan kecap rasa umami yang khas. Proses fermentasi ini juga menciptakan enzim alami yang membantu mengembangkan aroma serta warna khas kecap. Semakin lama fermentasi berlangsung, semakin kompleks pula cita rasa yang dihasilkan.

sumber: Freepik.com/dvoevnore
Mikroorganisme yang berperan dalam pembuatan kecap adalah jamur dari jenis Aspergillus sp. dan Rhizopus sp.. Kedua jenis jamur ini memiliki peranan yang sangat penting dalam proses fermentasi yang menghasilkan bumbu ini.
Saat ini, Aspergillus sp. lebih sering dipilih oleh produsen kecap karena kemampuannya dalam menghasilkan enzim protease yang lebih efektif. Enzim ini berfungsi untuk memecah protein dalam kedelai menjadi asam amino, yang tidak hanya meningkatkan rasa umami pada kecap, tetapi juga berkontribusi pada nilai gizi produk akhir. Dengan demikian, pemilihan mikroorganisme yang tepat sangat mempengaruhi kualitas dan karakteristik kecap yang dihasilkan.
Kecap tradisional hanya menggunakan beberapa bahan utama, yaitu:

sumber: Freepik.com/Freepik
Proses pembuatan kecap melibatkan beberapa langkah penting yang harus dilakukan dengan hati-hati:
Kedelai direndam dalam air selama beberapa jam hingga lunak, lalu direbus untuk menghilangkan enzim yang bisa menghambat fermentasi. Proses ini juga membantu menghilangkan rasa pahit yang mungkin ada pada kedelai.
Setelah dikeringkan, kedelai dicampur dengan jamur Aspergillus oryzae dan dibiarkan selama 3–7 hari dalam kondisi suhu yang terkontrol. Proses ini disebut koji, yang bertujuan untuk memecah protein kedelai menjadi asam amino. Jamur ini juga berperan dalam memberikan aroma yang khas pada kecap.
Setelah proses koji selesai, kedelai yang telah ditumbuhi jamur dimasukkan ke dalam larutan garam dan difermentasi selama 3 bulan hingga 2 tahun. Selama proses ini, bakteri lactic acid dan yeast bekerja sama untuk menciptakan rasa umami yang khas. Proses fermentasi ini juga menghasilkan senyawa-senyawa yang memberikan kecap warna cokelat yang menggugah selera.
Setelah fermentasi selesai, kecap diperas dan disaring untuk mendapatkan cairan murninya. Kecap kemudian dipanaskan untuk membunuh bakteri yang tersisa dan menghentikan proses fermentasi. Proses pemanasan ini juga membantu mengembangkan aroma dan rasa kecap.
Pada kecap manis, gula aren atau gula kelapa ditambahkan untuk menciptakan rasa manis yang kaya. Setelah itu, kecap dikemas dan siap digunakan. Proses ini memberikan kecap manis karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan kecap asin.
Fermentasi menghasilkan berbagai senyawa yang membuat kecap memiliki rasa dan aroma khas, di antaranya:
Semakin lama fermentasi berlangsung, semakin kompleks rasa dan aroma kecap yang dihasilkan. Proses ini juga menciptakan karakteristik unik pada setiap jenis kecap, tergantung pada bahan baku dan teknik yang digunakan.
Dengan memahami proses pembuatan kecap, kita tidak hanya menghargai rasa yang dihasilkan, tetapi juga tradisi dan budaya yang menyertainya. Kecap adalah simbol kekayaan kuliner Indonesia yang tak tergantikan. Jadi, saat Anda menikmati hidangan dengan kecap, ingatlah bahwa setiap tetesnya mengandung sejarah dan keahlian yang telah terjaga selama berabad-abad. Fermentasi kecap adalah perjalanan yang panjang dan penuh makna, menjadikannya salah satu bumbu andalan dalam masakan Nusantara.
#KecapKorma #KormaBerbagi #HalalanThayyiban #WarisanIbu